Selasa, 14 Januari 2014

Jembatan Kenangan


Tangi!!Tangi!! wes jam 5, gek subuhan selak srengengene njedul!
 (bangun!!bangun!! sudah jam 5,sana sholat subuh keburu matahari terbit)

Kata-kata Ibu yang setiap pagi mengawali hariku,disiplin yang tinggi untuk melaksanakan shalat subuh. Kebiasaan yang sudah dimulai sejak saya duduk di bangku sekolah dasar,sudah lama memang,saking lamanya sampai menjadi sifat bawaan yang entah kenapa biarpun saya tidak tidur dirumah,saya juga terbiasa bangun pagi karena kebiasaan ibu membangunkan dengan nada mengagetkan tersebut,zzZz. Wajarnya seorang pemuda pasti juga mempunyai difat pemalas,sifat tersebut juga tidak bisa jauh dari saya,tapi tentunya menyangkut urusan bangun pagi saya selalu disiplin bangun pagi karena kebiasaan yang ditanamkan oleh ibu saya,hehe "trimakasih bu" atas kedisiplinan yang engkau tanamkan  .

Hari ini bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW nabi besar umat Islam yang welas asih dan kerendahan hatinya menjadi teladan bagi kita semua. Pukul 5 pagi tadi saya terbangun karena "ibu" seperti yang saya jelaskan tadi hehe, badan masih terasa capek setelah 4 hari berada di purwokerto mencari sedikit upo (nasi). Mencoba kembali tidur,ajakan selimut masih terlalu hangat untuk ditinggalkan, ahhh tapi udara pagi lebih menggodaku untuk sekedar melihat pemandangan di pedesaan. Mulailah saya bergegas tanpa tujuan yang pasti ditemani sipitung merah melajulah saya pagi tadi. brrrrrrr

 sampai di pundong,jalan timur sungai opak

Terus melaju tanpa tujuan yang pasti, terlintaslah di benak saya untuk melihat jembatan bambu di desa pundong,kretek Bantul. Memori samar tentang masa kecil saya dulu yang pernah diajak simbah putri untuk menyebranginya,sepertinya menyenangkan hanya untuk sekedar memandangnya sambil mengingat masa kecil dulu. 

gambaran jembatan bambu di pundong yang saya ambil dari google

kurang lebih 1 jam perjalanan dari rumah saya menuju pundong dengan menggunakan sepeda motor honda c70 merah punya bapak saya,melaju perlahan namun pasti. Berbekal smartphone saya mencoba googling mengenai jembatan pundong yang ingin saya kunjungi tersebut,namun hasil yang kurang menyenangkan yang saya dapat dari googling. Ternyata jembatan yang sempat menghiasi masa kecil saya tersebut sudah diganti dengan jembatan beton modern karena sungai opak tempat didirikan jembatan tersebut (dulu) sering diterjang banjir,sehingga jembatan sering rusak bahkan rubuh,menyebabkan transportasi desa nambangan dengan pasar pundong terputus. 
Hal yang sangat disayangkan karena bangunan jembatan bambu yang masih tergolong dalam bangunan tradisional digantikan oleh bangunan beton yang lebih modern,yaa walaupun lebih kokoh.
Namun perjalanan pagi tadi tidak sia-sia juga,rasa malas dan capek perlahan juga hilang dibarengi dengan sejuknya hawa pedesaan dan pemandangan persawahan yang kebetulan masih musim awal tanam. 
Banyak hal diluar sana yang jauh lebih elok daripada sekedar tidur dan bermimpi.

 jembatan yang sudah berubah menjadi jembatan gantung beton


si merah di depan pintu jembatan

sepeda tua sedang menunggu siapa dia?