Minggu, 23 Maret 2014

Mendadak Pacitan

Malam itu seperti biasanya saya,subah,cemenk jika lagi seneng main,kumpul teruss sampai pagi,disela obrolan kusir yang biasa kita lakukan,ada satu display picture di kontak bbm teman saya yang memajang pantai unik dengan tebing batu layaknya layar kapal,munculah pertanyaan "iki pantai kok apik nengdi yo?" ucap saya dengan spontan, "cobo takon wae" sahut subah yang beberapa hari lalu merayakan ulang tahunya yang ke-21, bergegas mengetik screen layar hp,langsung dibalas dengan jawaban nama pantai dan daerahnya,Ya pantai klayar di Pacitan provinsi Jawa Timur.

Karena minggu itu minggu terakhir liburan semester 5 dan sangat disayangkan apabila dalam suatu liburan semester hanya menetap dirumah dengan minim aktivitas yang produktif kenapa tidak berwisata saja? (dalam benak saya). Ya,menanggapi balesan teman saya di BBM pada malam itu bertempat di markas jomblo (kecuali saya,hehe) di rumah cemenk,teman saya yang suaranya nyempreng kaya anak kucing (cemenk) kita bertiga dibuat semakin penasaran dengan pantai klayar tersebut, menyudahi rasa penasaran itu bergegas kita tanya pada simbah serba tahu, YA mbah google, tanya dimana letak,route dan wisata lain di pacitan.

Rasa penasaran akan pantai klayar tidak hilang jika hanya bertanya sama simbah google.Maka dengan dadakan (bahasa jawa) spontan (bahasa indonesia) kita bertiga sepakat menyudahi rasa penasaran dan kesepian di liburan semester dengan mengunjungi pantai yang terletak di Pacitan tersebut pada esok lusa.
....................................................................................................................................................................

Hari "lusa" yang saya sebutkan tadi akhirnya tiba, dan kita menjadi ber-5 dari rencana awal ber-3 , saya,subah,cemenk, yaya, bhisma,dan ateng. I hope so dadakan kali ini jadi lebih seru dengan ber-banyak teman,hehe

Bermodal GPS dari smartphone kami berangkat dari Jogja pukul 9 pagi, on the way ada perbincangan seru yang menggelikan antara saya dan subah. Dari refrensi yang saya baca mengenai pantai klayar (dimana jarak tempuh dari jogja kurang-lebih 3 jam perjalanan) menjadi perdebatan sengit antara saya dan subah, berdebat tentang waktu tempuh jogja-pacitan. Subah mengaku pernah menempuh jarak jogja-pacitan dengan 5 jam perjalanan, namun berdasar pada refrensi yang saya baca, statement yang diutarakan subah saya tentang dengan modal refrensi tersebut dan akhirnya Taruhan semangkuk bakso pun disepakati mengenai jarak tempuh tersebut, hehe seru-seruan dikit dijalan.

Rute yang kami lewati jogja-wonosari-pracimantoro-wonogiri-pacitan, 3jam pas gerbang ucapan selamat datang di kabupaten pacitan terlewati. Subah yang pura-pura tidur tidak bisa mengelakkan senyum kecil yang tertahan karena ditertawakan anak-anak dan kalah taruhan. hahaha "yeaaa sepiring bakso yo?" utara saya, "yo sesuk yo,aku ijih wareg e" sahut subah,dan anak-anak pun tertawa. Tak sia-sia perjalanan kali ini saya rasa cukup menyenangkan dan basah (nggak garing maksudnya,hehe.

Ditigaperempat perjalanan kami temui plakat yang satu paket dengan pantai klayar,Goa gong. Mmmm mengingat hari itu matahari masih terik,pukul 1siang kami berfikir kalau cuma dipantai rasanya monoton, knapa enggak berteduh di goa dulu? kayanya menarik. Sahhh,dengan tidak berputar arah masih satu jalan dengan pantai klayar kami pun menuju goa gong terlebih dahulu kemudian dilanjutkan ke pantai klayar.



Subah nampangdi  pintu masuk


dari kiri, Subah,Saya dan Cemeng
merasa panas dan pengap di dalam goa, kami memutuskan keluar dan "ngisis" sejenak
kiri:bhisma,cemeng,ateng,subah,saya

akhirnya bisa nampang juga di pantai klayar,hehe
Terimakasih atas waktunya teman. Liburan gak harus mahal dan panjang, sedikit waktu dan sedikit budget pun bisa jadi liburan yang menyenangkan.
-RESPECT-

throw back hujan abu kelud

14 Februari 2014 tepatnya dimana sebagian besar orang menganggap sebagai hari kasih sayang yang pada umumnya dirayakan dengan pemberian coklat ataupun bunga kepada kekasih ataupun teman dekat (bagi yang percaya),namun tahun ini ada hal yang berbeda.

 Pagi hari pukul 04.30 seusai menjalankan ibadah shalat subuh,seperti biasa saya menjalankan rutinitas pagi seperti biasa (olahraga ataupun memberi makan burung-burung peliharaan). Namun pada pagi itu ada yang berbeda dari hari biasanya, biasanya pukul 05.30 sang surya sudah mulai bersinar, biasanya cahaya terang bisa saya lihat melalui sela-sela jendela namun pagi itu tidak. Hujan abu mulai turun semenjak pukul 04.00 dari berbagai sumber,namun saya baru tersadar pada pukul 05.30.

Memang pagi itu terasa nyata Kuasa dan kasih sayang Tuhan yang menyayangi umatnya. Kuasa sang Tuhan yang masih berkenan mengingatkan umatnya yang Lupa, Kasih sayang Tuhan atas umatnya yang mulai lalai. Semoga gejala alam tersebut dapat menjadi renungan ataupun koreksi bagi diri kita sendiri atas Kebesaran Tuhan. Everytime,everywhere Tuhan selalu mencintai dan menyayangi umatnya dengan segala kebesaran-Nya. Godbless




Pagi terasa petang
Pukul 06.15

Alun-alun Utara Yogyakarta setelah dihujani abu gunung Kelud
Plengkung gading pukul 13.00WIB

Selasa, 14 Januari 2014

Jembatan Kenangan


Tangi!!Tangi!! wes jam 5, gek subuhan selak srengengene njedul!
 (bangun!!bangun!! sudah jam 5,sana sholat subuh keburu matahari terbit)

Kata-kata Ibu yang setiap pagi mengawali hariku,disiplin yang tinggi untuk melaksanakan shalat subuh. Kebiasaan yang sudah dimulai sejak saya duduk di bangku sekolah dasar,sudah lama memang,saking lamanya sampai menjadi sifat bawaan yang entah kenapa biarpun saya tidak tidur dirumah,saya juga terbiasa bangun pagi karena kebiasaan ibu membangunkan dengan nada mengagetkan tersebut,zzZz. Wajarnya seorang pemuda pasti juga mempunyai difat pemalas,sifat tersebut juga tidak bisa jauh dari saya,tapi tentunya menyangkut urusan bangun pagi saya selalu disiplin bangun pagi karena kebiasaan yang ditanamkan oleh ibu saya,hehe "trimakasih bu" atas kedisiplinan yang engkau tanamkan  .

Hari ini bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW nabi besar umat Islam yang welas asih dan kerendahan hatinya menjadi teladan bagi kita semua. Pukul 5 pagi tadi saya terbangun karena "ibu" seperti yang saya jelaskan tadi hehe, badan masih terasa capek setelah 4 hari berada di purwokerto mencari sedikit upo (nasi). Mencoba kembali tidur,ajakan selimut masih terlalu hangat untuk ditinggalkan, ahhh tapi udara pagi lebih menggodaku untuk sekedar melihat pemandangan di pedesaan. Mulailah saya bergegas tanpa tujuan yang pasti ditemani sipitung merah melajulah saya pagi tadi. brrrrrrr

 sampai di pundong,jalan timur sungai opak

Terus melaju tanpa tujuan yang pasti, terlintaslah di benak saya untuk melihat jembatan bambu di desa pundong,kretek Bantul. Memori samar tentang masa kecil saya dulu yang pernah diajak simbah putri untuk menyebranginya,sepertinya menyenangkan hanya untuk sekedar memandangnya sambil mengingat masa kecil dulu. 

gambaran jembatan bambu di pundong yang saya ambil dari google

kurang lebih 1 jam perjalanan dari rumah saya menuju pundong dengan menggunakan sepeda motor honda c70 merah punya bapak saya,melaju perlahan namun pasti. Berbekal smartphone saya mencoba googling mengenai jembatan pundong yang ingin saya kunjungi tersebut,namun hasil yang kurang menyenangkan yang saya dapat dari googling. Ternyata jembatan yang sempat menghiasi masa kecil saya tersebut sudah diganti dengan jembatan beton modern karena sungai opak tempat didirikan jembatan tersebut (dulu) sering diterjang banjir,sehingga jembatan sering rusak bahkan rubuh,menyebabkan transportasi desa nambangan dengan pasar pundong terputus. 
Hal yang sangat disayangkan karena bangunan jembatan bambu yang masih tergolong dalam bangunan tradisional digantikan oleh bangunan beton yang lebih modern,yaa walaupun lebih kokoh.
Namun perjalanan pagi tadi tidak sia-sia juga,rasa malas dan capek perlahan juga hilang dibarengi dengan sejuknya hawa pedesaan dan pemandangan persawahan yang kebetulan masih musim awal tanam. 
Banyak hal diluar sana yang jauh lebih elok daripada sekedar tidur dan bermimpi.

 jembatan yang sudah berubah menjadi jembatan gantung beton


si merah di depan pintu jembatan

sepeda tua sedang menunggu siapa dia?